Hidup Adalah Seolah Olah About Me
Nama : M. Abdul Mughoni
From : Bogor Timur, Kp. Serena lebak Ds. Sirnarasa Kec. Tanjungsari Kab. Bogor
About Me : Anak Pertama dari 3 bersaudara, suka makan dan ngemil, kalau di malam hari suka bangun, bukannya sholat tahajud tapi malam cari makanan,
Pendidikan : baru masuk kuliah di UIKA ( Universitas Ibn Khaldun Bogor )
Agama : Pasti Islam dong
pekerjaan : Operator di sebuah warnet nama nya sebutin ga yah ..... Arafah net. jalan raya babakan raden cariu .
No. HP : 0857140975.... 2 hurup lagi cari sendiri ya kalau pengen kenal dan lebih dekat lagi sma saya hehee, pede bures lah, orang ganteng
saya lebih suka CW yang mensport gua di waktu gua lgi down , kalau maslah muka sih relatip semua cw itu, udah dulu akh ????
Hidup Adalah Seolah Olah
Duduk di sebuah resto chinese food di sudut mall, menunggu pesanan dihidangkan, memperhatikan orang yang lalu lalang dari balik kaca resto. Ah, orang-orang itu sepertinya makmur semua. Begitu sumringah, penuh percaya diri , dengan gaya busana terkini. Sementara data statistik yangg dikeluarkan BPS angka kemiskinan justru meningkat , dan index Pembangunan Manusia Indonesia ada di klasemen bawah…!
Apakah saya sedang terjebak di “dunia seolah-olah” ? Seolah-olah Indonesia makmur ? Entahlah, yg jelas ” dunia seolah-olah” itu seakan-akan nyaris tak ada batasnya dengan dunia nyata. Yang menjalani maupun yang melihat mengalami disorientasi.
“Dunia seolah-olah” yang saya maksud bukanlah dunia maya atau dunia yang ada dalam jagad internet. Bukan ! ( Meskipun dunia dalam jagad internet juga dunia seolah-olah atau seolah-olah seperti dunia beneran ) Yang saya maksud “dunia seolah-olah” di sini adalah dunia yang bukan dunia yang sebenarnya bagi seseorang yang menjalaninya tetapi ia menganggap dirinya hidup dalam dunia yang sebenarnya.
Dunia ini begitu menyenangkan, memabukkan kemudian menjadi candu sehingga seseorang akan berusaha mati-matian agar “dunia seolah-olah” ini terasa menjadi dunianya yang sebenarnya. Dia akan berperilaku dan mengusahakan agar dirinya dan orang lain - bahkan - menganggap” dunia seolah-olah” yang dijalaninya terasa nyata.
Beberapa waktu lalu heboh seorang artis cantik yang tidak seberapa ngetop diancam oleh
ex ’suami’nya yang mantan pejabat. Oh, jadi artis memang membawa banya beban. Beban gengsi. Dunia yang seharusnya berhenti di kotak kaca ,dihidupkan dalam dunia nyata. Baik oleh artisnya sendiri maupun oleh penontonnya.
Antara fantasi dan realitas akhirnya campur aduk bahkan begitu sulit dibedakan oleh yang melakoninya maupun yang melihat.
Menghidupkan fantasi dalam dunia nyata membutuhkan ongkos yang tidak sedikit. Ketika bangun tidur , harus memastikan bahwa tubuhnya secara fisik akan dan selalu seelok dalam lakon. Maka apapun akan dilakukan. Menghitamkan , meluruskan memanjangkan rambut , memutihkan badan, melangsingkan tubuh, memoles wajah, menghilangkan kerutan garis wajah, mengencangkan kulit leher yang mulai menggantung, menarik kelopak mata yang mulai kendor,mengisi ulang bantalan payudara yang mulai menyusut,menghaluskan kulit tubuh agar selalu kenyal dan mulus. Seolah kemudaan adalah sebuah keniscayaan dan ketuaan bukanlah sebuah kepastian. Tidak cukup sampai di sini. Perilaku ,gaya hidupnya pun dipindahkan dari layar kaca ke dunia nyata. Sehingga memakai baju harus bikinan perancang top , termasuk pakaian dalam sekalipun. Tas pun Hermes punya atau yang setara. Ingat seorang penyanyi perempuan yang mempopulerkan kata : “Sesuatu..” dengan genitnya memamerkan beberapa koleksi Hermesnya saat tampil live dipanggung konsernya di…Bekasi ! Alamaak,pamer Hermes di Bekasi ..Sesuatu banget, kali ya..!
Mobil haruslah merk-merk high end. Makan haruslah di resto terekomendasi. Tinggal harus di executive apartment atau kompleks perumahan mewah.
Sungguh dunia fantasi yang tidak murah. Ketika bintang sedang terang, ketika bahkan apa yang digenggam langsung menjadi emas, mudahlah menghidupkan dunia fantasi ini. Tetapi bintang tidak selamanya terang, akan selalu muncul bintang yang lebih cemerlang. Ketika itu terjadi, “dunia seolah-olah” yang memabukkan ini akan mati-matian dihidupkan. Kenapa ? karena sangat menyakitkan merasakan dunia yang sebenarnya.
Jadi jangan heran kalau ada yang rela menjadi simpanan pejabat ini pejabat itu asal ada yang jadi investor menghadirkan ” dunia seolah-olah” ini. Seperti artis yang tidak seberapa ngetop tadi, akhirnya ngaku jadi simpanan setelah merasa terancam oleh si mantan pejabat. Rupanya si ex pejabat juga hidup dalam “dunia seolah-olah”. Seolah-olah perempuan itu istrinya beneran sehingga kalap ketika ada pria lain dalam hidup perempuan itu, ha..ha..ha..!.
Ada yang lebih lucu lagi, ingat seorang penyanyi perempuan asal Purwokerto yang berhasil menggusur singgasana permaisuri anak mantan presiden dan sesudahnya dengan percaya diri berceloteh membagi resep bagaimana agar suami kerasan di rumah ( jiaaa..hhh..!).
Ada yang tanpa malu menipu pelanggan,teman dan kolega dengan harga runtuhnya reputasi sebagai perancang top. Perancang top ini lupa kalau dia (sudah) tidak sekaya kliennya.
Ada yang tanpa ragu mengorbankan kemudaan anak perempuannya kepada seorang anak raja di negeri seberang. Bahkan akhir-akhir ini jadi gunjingan di media karena anak perempuannya yang seharusnya sekolah dan bergaul dengan teman sebaya malah berfoto mesra dengan pejabat yang rambutnya sudah ubanan.
Oh..!
Apakah “dunia seolah-olah “ hanya ada dalam panggung sinetron ? Di panggung politik pun dunia ini dengan telanjang dihadirkan. Seolah-olah republik ini miliknya dan rakyat adalah bedindenya. Sehingga tanpa malu meminta kursi duduk saja harus seharga 24 juta sementara rakyat yang diwakilinya ,anak-anak sekolah mau ke sekolah saja harus bertaruh nyawa dalam arti sebenarnya. Tanpa malu meminta komisi terhadap proyek-proyek yang menjadi tangungjawabnya. Tanpa malu berteriak-teriak di layar kaca dalam forum debat yang seolah-olah forum debat berkelas. Tanpa malu menjarah uang negara dan menganggap seolah-olah itu adalah haknya. Tanpa malu seorang bankir cantik menjarah uang nasabah yang dikelolanya demi mengongkosi gaya hidupnya seolah-olah dirinya sekaya dan semakmur nasabah-nasabahnya.
“Dunia seolah-olah” pun tanpa ampun merangsek dalam kehidupan rakyat biasa. Pramuniaga di mall-mall mewah yang berdandan dan bergaya seperti pelanggan yang mampir ke counternya padahal sehari-hari tingal di rumah petak dipingggiran Jakarta dan hanya hidup dengan Upah Minimum Propinsi. Remaja-remaja yang bergaya seperti idolanya di layar kaca padahal orang tuanya banting tulang mengumpulkan nafkah seperak demi seperak. Bintang iklan remaja yang minggat karena tidak tahan dengan kehidupan nyata keluarganya yang memang berkekurangan. Apakah anda menjumpai teman ,saudara atau anda sendiri terjebak pinjaman kartu kredit ? Penawaran kartu kredit amboi menggoda. Anda dibawa ke “dunia seolah-olah” anda beruang banyak. Makan di resto mewah , shopping ,travelling, belanja gadget terkini dll hanya dengan sekali gesek. Seolah dunia dalam genggaman padahal sebenarnya hutanglah yg digenggam.
Saya jadi ingat Julia Robert bintang hollywood favorite saya dulu dan sekarang memiliki satu kalimat bijak - setidak2nya bijak menurut saya -
” Kamu bisa menjadi semua karakter yang diinginkan, tapi kamu tetap harus pulang ke rumah dengan dirimu sendiri “
Ah, seorang Julia Robert saja tidak mau hidup dalam “dunia seolah-olah”..!
“Ya,ampun…mencet-mencet melulu..buburnya sudah datang ,nehh..” Komplain mantan pacar saya membuyarkan lamunan saya.
” Iya ,nehh ..mamah ..BBM terus…” Jagoan saya ikut protes sambil merakit transformernya.
Bukan BBM sayang, tapi nulis buat kompasiana.. “ Saya membantah meski kemudian menutup BB juga. Daripada saya didemo mereka berdua gara-gara BB. Bapak sama anak ini memang paling kompak kalau memprotes saya urusan BB. Biasa merasa tidak diperhatikan. Ha..ha..ha..!Bubur bebek panggang yang ditunggu sedari tadi sudah terhidang di meja. Yang ini bukan dunia seolah-olah bo’ karena berasa panas dan ueenaknya….he..he..he.., Happy week end..!
From : Goni Ziznecx





Smoga bermanfaat yoo
BalasHapus